“ I saved for the days when I cannot beg ”
Ini kalimat terindah buat saya dalam minggu ini. Dan mungkin akan bertahan untuk beberapa minggu ke depan. Heck, mungkin ungkapan itu akan terus jadi inspirasi saya dalam usaha menata finansial pribadi.
Yang mengutarakan itu bukan ahli perencanaan finansial. Bukan juga ahli terpandang yang ucapannya sering dikutip orang. Ungkapan itu muncul dari seorang pengemis di India, yang barusan saja menyetorkan seluruh simpanan koin miliknya ke bank. Ibu Das, secara rutin menyimpan sebagian dari hasil jerih payahnya sejak ia memulai karir sebagai pengemis di usia 16 tahun.
Ungkapan itu polos dan jujur. Datang bukan dari bangku kuliah ekonomi atau dari kursi training pengelolaan finansial. Ungkapan itu datang dari kearifan dan kesederhanaan seseorang yang pernah (dan masih) berada dalam posisi ekonomi sulit. Tapi dia percaya persiapan untuk menopang hidup di masa tua, saat dia tak lagi dapat bekerja, harus dimulai sedini mungkin.
Wow.
Tapi kadang kita, yang posisinya jauh lebih beruntung, masih saja mengeluhkan sulitnya mengelola finansial dan merencanakan masa depan. Masih pantaskah kita mengeluh?
Siapkan Meskipun Kecil, Siapkan Mulai Sekarang
Ada satu karakteristik persiapan dana pensiun yang harus dimanfaatkan kaum muda, termasuk saya. Yaitu jangka waktu yang terhitung cukup lama, antara 20-30 tahun, hingga waktu harapan pensiun tiba. Karakteristik ini akan sangat menguntungkan mereka yang memulainya sedini mungkin. Karena dana yang kita siapkan akan ikut tumbuh seiring dengan berjalannya waktu.
Tapi ada satu syarat yang harus dijaga…, konsistensi.
Saya harus disiplin dan memaksa diri menyisihkan sebagian pendapatan untuk persiapan pensiun. Dengan demikian, meskipun awalnya bernilai kecil, waktu akan jadi teman baik saya menyiapkan penopang hidup saat saya tak bisa lagi mengemis.
Cerita lengkap tentang Ibu Das dan simpanan hidupnya bisa dibaca di sini dan di sini.
No comments:
Post a Comment